Showing posts with label Kdrama. Show all posts
Showing posts with label Kdrama. Show all posts


Title: 로드 넘버원 / Road No. 1 / Road Number One
Genre: Action (War)
Episodes: 16 
Broadcast Network: MBC 
Broadcast period: 2010-Jun to TBA 
Air time: Wednesday & Thursday 21:55

Untuk sementara ini, Pemain utama yang bermain dalam drama yang akan tayang di bulan Juni ini, yaitu:
- So Ji Sub sbg Lee Jang Woo 
- Kim Ha Neul as Kim Soo Yun 
- Yoon Kye Sang as Shin Tae Ho 

Behind The Scene:
Foto diatas menunjukkan salah satu skala terbesar adegan drama yang muncul di Episode 14, di mana Soo Ji Sub dan dan Yoon Kye Sang menjadi pasukan dan mengalahkan tentara AS bersama-sama ketika mereka dibombardir oleh tembakan musuh.
Drama yang disiapkan dengan anggaran 13 billion won dan diatur di tengah-tengah pecahnya perang pada tanggal 25 Juni 1950. Setting (tempat) drama ini ditempatkan di dataran yang luas di daerah Pyeongchang, Gangwon-do sekitar 1,6 hektar. Drama ini juga akan menggunakan banyak dinamit seperti benar-benar dalam keadaan perang yang sesungguhnya.

Source: TV Daily, Osen
Credit: Dramawiki, Dramabeans

date Wednesday, March 3, 2010


Seok Ho pergi ke sebuah tempat dimana terlihat banyak anak kecil berhamburan keluar sambil menangis karena terkena hukuman oleh seorang pria tua yang disebut oleh Seok Ho sebagai Sesongnim (Guru).

Sementara di sekolah Byung Moon, para Guru mengadu pada Kepsek Ma Ri bahwa anak-anak kelas khusus tidak berbeda dengan anak kelas lain. Bukannya belajar tetapi mereka semua malah mengulang pelajaran sendiri.

Di kelas khusus, siswa nakal di kelas mereka sebelumnya mengejek kelima siswa tersebut khususnya Pul Ip dan Bong Goo. Pul Ip begitu dikenal sering menolong Bong Goo dikelasnya. Baek hyun tidak tahan lagi, ia lompat ke atas meja dan menendang para siswa nakal tersebut sampai terjatuh. Di saat yang sama, Kepsek Ma Ri bersama para Guru melihat kejadian itu dengan jelas. Mereka marah pada Baek Hyun. Malahan salah seorang Guru hampir memukul wajah laki-laki itu. Di dalam kelas tersebut, Kepsek Ma Ri mengintrogasi hal apa yang terjadi di kelas khusus. Mereka begitu terkejut melihat kelima siswa itu sedang mengerjakan Soal-soal latihan pelajaran Matematika kelas 4, 5, dan 6 Sekolah Dasar. Guru Soo Jung menjelaskan bahwa sebelumnya sudah dilakukan tes pelajaran Matematika kepada mereka namun hasilnya tidak bagus. Maka itu mereka semua harus mengerjakan soal-soal latihan di bubu-buku itu sampai hari ini.

Seok Ho meminta mantan Guru Matematikanya itu untuk mengajar siswa yang akan masuk Universitas Namun Gurunya menolak. Seok Ho tidak banyak memaksa. Ia memberitahu Guru Soo Jung agar para siswa tidak pulang sebelum menyelesaikan soal-soal latihan itu sampai selesai. Guru Soo Jung panik.
Ternyata Seok Ho mencari cara lain untuk meluluhkan hati sang Guru. Ia mengambil buku-buku pelajarannya saat masih menjadi murid Gurunya itu. Malam itu Seok Ho kembali ke rumah Gurunya untuk memnta bantuan lagi dengan memberitahukan buku-buku pelajaran yang masih disimpannya itu. Gurunya masih tetap menolak. Seok Ho tetap memaksa dan meminta dengan sangat. Ia mengambil album berisi berita tentang seorang anak nakal yang berhasil masuk Universitas bahkan sampai akhirnya menjadi seorang Dokter. Ia juga setuju mengenai metode pembelajaran dari sang Guru sejak dahulu. Akhirnya Guru itu menerima tawaran Seok Ho.

Dikelas khusus, Seok Ho memperkenalkan Guru baru kepada Kepsek Ma Ri, para Guru dan kelima siswa kelas itu. Semua terkejut dengan penampilan eksentrik dari Guru tersebut. “Ini Guru Cha Ki Bong, ia akan mengajar di kelas khusus.” Didalam kelas, Guru Cha memandang rendah hasil nilai tes Matematika yang diberikan Seok Ho dan membuangnya satu persatu.
Ia mengambil soal-soal latihan yang berdebu dan menyuruh para siswa mengerjakan 100 soal selama 10 menit. Baek Hyun mengeluh, namun Guru Cha tidak peduli dengan keluhan itu. Selesai tes, Guru Cha kecewa dengan hasil nilai mereka yang sangat parah jeleknya. Guru Cha mencoba cara lain agar mereka terbiasa dengan Matematika dasar. “Matematika adalah permainan!” kata Guru Cha. Baek Hyun bergumam, “Sepertinya itu asyik.” Guru Cha menanggapinya, “Mengapa –x–=+ ??” Baek Hyun gelagapan (Hehe..) Lalu Guru Cha menyuruh semuanya tak terkecuali Guru Soo Jung dan Seok Ho untuk berpose seperti saat bermain bola ping-pong, “Matematika bukan dikerjakan dengan kepala tetapi tubuh!” Dalam pembayangannya, Para siswa saling melempar dan menjawab soal.

Permainan dimulai dengan melempar bola ping-pong, yaitu si penanya soal. Dan yang menerima pukulan bola ping-pong tersebut, ialah si penjawab soal. Dengan begitu, para siswa akan lebih terbiasa menjawab soal matematika secara cepat dan spontan. Setelah itu, Guru Cha menyemangati mereka, “Matematika adalah Cepat! Otomatis! Mekanis!” Para siswa mengikutinya.

Di ruang Guru, Seok Ho mengatakan bahwa Guru-Guru Byung Moon harus melakukan tes kemampuan dalam mengajar selama 3 hari. Jelas mereka menolak rencana Seok Ho. Namun Seok Ho melakukannya demi Byung Moon sebagai pengacara disana, agar para Guru dapat mengajar siswa-siswinya dengan baik dan tegas, tidak seperti biasanya.

Seok Ho memasuki kelas khusus. Mengumumkan pada Baek Hyun dan yang lainnya untuk mengikuti kamp pelatihan selama 10 hari di sekolah karena masalah nilai mereka yang tidak bagus khususnya pelajaran Matematika. Mereka harus makan, mandi, dan tidur di sekolah tanpa ada yang pulang ke rumah masing-masing. Ia menyuruh para siswa untuk pulang ke rumah dan kembali ke sekolah pada jam 7 malam. Tak lupa, Seok Ho mengingatkan pada mereka bahwa dirinya tidak perlu dipanggil Guru, ia hanyalah pelatih mereka untuk masuk Chun Ha. “Terserah kalian mau memanggilku apa.” Kata Seok Ho.

Semua siswa pulang ke rumahnya. Salah satunya Chan Doo yang langsung dikejutkan dengan pernyataan Ayahnya bahwa dirinya harus ikut pindah ke Amerika (Termasuk sekolah) dan harus memberhentikan aktivitas sekolahnya di Byung Moon. Chan Doo menolak, namun sang Ayah tetap bersikeras dengan keputusannya itu (Perasaan kalo film Korea itu kebanyakan pulang/pergi Amerika melulu. Hehe).

Kembali ke sekolah, Seok Ho memberikan buku catatan untuk para siswa dalam kegiatan sehari-harinya, Guru Soo Jung yang akan selalu mengecek buku-buku catatan itu. Ia juga memberikan soal Matematika dari Guru Cha sebanyak 1000 soal sebelum tidur. Hyun Jung berkomentar, “Ahjussi (Paman), itu terlalu banyak..” Semua terdiam... “Bukankah kau yang mengatakan agar kami memanggilmu dengan sebutan apa saja?” Tanya Hyun Jung. Guru Soo Jung tertawa. Tiba-tiba Pul Ip berbicara, “Oh Bong Goo belum datang.”
Ternyata Bong Goo terjebak dalam keramaian pengunjung di restorannya. Lalu Seok Ho datang menjemput. Ia memberitahukan pada orangtua Bong Goo bahwa anaknya itu masuk kelas khusus untuk masuk Universitas Chun Ha. Ibunya berkomentar, “Apa maksudmu Chun Ha? Kami tidak mengharapkan apapun dari Bong Goo. Apakah harus kuliah? Ia bahagia, itu masalahnya.” Seok Ho bertanya, “Bagaimana kau tahu kalau Bong Goo bahagia?” Ibunya menjawab, “Ia senang saat makan iga. Benarkan, Bong Goo?? (wkwkwk..) Lalu Seok Ho mengeluarkan buku pelajaran dari dalam tas Bong Goo. Ia mengatakan pada orangtua Bong Goo bahwa Bong Goo rajin belajar tetapi memang tidak mendapatkan peringkat. Oleh sebab itu, ia meminta izin untuk mengembangkan masa depan Bong Goo mulai sekarang. Orang tuanya setuju. Seok Ho berkata, “Oh Bong Goo, ini kesempatan terakhirmu. Tahun depan kau bisa membantu orang tuamu. Tapi, sekarang kau harus belajar.”

Malam itu, seluruh siswa dengan Guru Soo Jung tidur bersama dalam satu ruangan. Hanya tergantung beberapa kain saja untuk memisahkan tempat laki-laki dan perempuan. Dalam sepinya malam, Baek Hyun berjalan di lingkungan sekolah karena tidak bisa tidur. Di saat yang sama ia melihat Pul Ip yang sedang duduk menyendiri sambil mendengarkan lagu.

Baek Hyun: “Ku pikir kau sudah tidur.”
Pul Ip: “Aku tidak bisa tidur. Mungkin karena tempatnya terlalu asing bagiku.”
Baek Hyun: “Kau mengkhawatirkan sesuatu?”
Pul Ip: “Aku hanya berpikir apakah masuk kelas ini adalah keputusan yang benar. Aku tidak yakin.”
Baek Hyun: “Aku pikir itu tidak benar.. Kita dipermainkan oleh Kang Seok Ho.”
Pul Ip: “Jika begitu, mengapa kau ikut bergabung?”
Baek Hyun: “Aku tidak yakin. Ada yang membuatku penasaran..”
Lalu Baek Hyun merebut Mp3 dari tangan gadis itu. Sambil tertawa, Baek Hyun mengatakan bahwa Pul Ip memiliki selera musik yang aneh. Pul Ip ikut tertawa dan meminta Mp3-nya dikembalikan.

Tiba-tiba Hyun Jung datang dan bertanya mereka sedang apa. Pul Ip langsung berdiri karena takut Hyun Jung salah paham pada mereka. Ia menjelaskan bahwa dirinya hanya mencari udara. Dengan cepat Pul Ip mengambil Mp3-nya dari tangan Baek Hyun dan pergi meninggalkan Hyun Jung berdua dengan laki-laki itu.
Hyun Jung: “Kau mau kemana?”
Bae Hyun: “Ayo tidur.”
Hyun Jung: “ Mengapa kau malah menyuruh tidur saat aku keluar kesini?”
Lalu Baek Hyun menyelimuti Hyun Jung dengan jaket yang dikenakannya sambil mengatakan, “Nanti kau sakit. Ayo masuk dan tidur.” Hyun Jung menggandeng tangan Baek Hyun sambil tersenyum. Dilihat juga oleh Pul Ip dari kejauhan.

Pagi-pagi (Malam menjelang pagi) Seok Ho menyetel musik keras dan memukul-mukulkan panci (?) untuk membangunkan para siswa dan Guru Soo Jung untuk berolahraga dengan lari 3 putaran di lapangan sekolah. Saat dikelas, Seok Ho menunjukkan diagram jadwal kelima siswa tersebut selama 10 hari di kamp pelatihan. Mereka harus bangun tidur jam 5. Selain waktu tidur, mandi, dan makan, semua siswa akan belajar selama 16 jam perhari. Seok Ho juga mengingatkan agar semuanya (Kalau bisa) menyisipkan kegiatan belajar saat makan maupun saat menyikat gigi (wkwkwk,, Kejam!).

Hari itu kepsek Ma Ri akan menggantikan posisi Guru Soo Jung sebagai wali kelas di kelas Baek Hyun yang sebelumnya. Karena Guru Soo Jung akan menjadi Guru tetap di kelas khusus. Guru Soo Jung tidak senang bukan karena posisinya yang digantikan oleh wanita itu melainkan penampilannya yang kelewat seksi, membuat Guru Soo Jung menjadi iri (wkwk).
Sementara di kelas khusus, pada jam pelajaran Guru Cha, para siswa diperintahkan mengerjakan tes Matematika secara berulang-ulang namun hasilnya tetap tidak bagus. Belum lagi masalah posisi duduk dan cara memegang pensil yang benar (Bermalas-malasan), Guru Cha selalu selalu marah-marah dan membuat mereka kesal.
Baek Hyun: “Apa yang kau mau dari kami? Dari pagi kami terus mengerjakan soal-soal. Kau pikir kami ini kalkulator?!”
Guru Cha: “Tepat sekali. Cepat! Otomatis! Mekanis untuk menjawabnya!
Baek Hyun: “Hentikan! Kami bisa gila!”
Guru Cha: (Mendekatkan wajahnya pada Baek Hyun) “Karena kau hidup seperti itu, itulah yang membuatmu idiot. Nilai 99 sama saja dengan 0. Nilai sempurna jika tidak sempurna ya tidak bagus!”
Baek Hyun tidak peduli. Ia bangun dari kursinya karena emosi. Seok Ho bertindak. Ia mengingatkan Baek Hyun untuk tidak bersikap keras seperti itu. Tiba-tiba Ayah Chan Doo beserta polisi datang memanggil Seok Ho mengenai masalah penipuan yang dilakukan oleh Seok Ho (Dengan mengadakan kelas khusus Chun Ha).
Lalu Chan Doo berdiri dan membereskan alat tulisnya. Ia mengatakan bahwa dirinya akan ikut sang Ayah ke Amerika. Semua yang dikelas terkejut dengan ucapannya itu. Seok Ho mengatakan, “Hong Chan Doo, duduk! Siapa bilang kau boleh pergi? Saat kau masuk kelas khusus kau hanya boleh mengikuti perintahku. Kau lupa itu? Dengarkan aku.. Hingga kalian diterima di Chun Ha, kalian tidak boleh meninggalkan kelas ini. Kalian mengerti??”

date Tuesday, March 2, 2010

 
Kemarahan Seok Ho mencapai puncaknya. Tak peduli mau tidak mau para siswa harus ada yang memasuki Universitas Chun Ha. Baek Hyun kesal dan mengatakan, “Banyak siswa Byung Moon yang sehabis pulang sekolah bekerja mencari nafkah untuk keluarganya yang tinggal dirumah. Bagi yang memiliki orang tua, kebanyakan dari mereka bekerja dan hanya melihat anak-anaknya saat tidur. Banyak siswa yang bermasalah. Kau menyuruh anak-anak ini masuk Chun Ha? Apa kau bertaruh dengan seseorang? Dimana kau sembunyikan kameranya, hah??”
Seok Ho muak dengan pernyataan Baek Hyun, “Kau, sampah kotor! Kau hanya mengikuti peraturan yang dibuat orang lain. Kalian sekelompok orang yang bodoh!” Baek Hyun tambah kesal. Ia tak segan melemparkan bola basket itu lagi tepat mengenai kaca jendela sehingga membuat jendela itu pecah. Kejadian itu membuat seluruh siswa Byung Moon bersorak gembira dengan meneriakan nama Baek Hyun berulang kali.

Sementara itu, guru-guru marah pada Kepala sekolah Ma Ri karena begitu gampangnya menyewa pengacara sedangkan sekolah pun sudah hampir bangkrut. Namun, kepsek meminta untuk memberikan Seok Ho kesempatan selama 3 hari kedepan untuk rencananya itu. Tiba-tiba Seok Ho datang, mengatakan bahwa kelas yang akan dipakai untuk kelas khusus terkunci. Semua guru menolak membantu Seok Ho. Jadilah Guru Soo Jung yang tidak ada jam mengajar saat itu membantu Seok Ho membuka pintu untuk kelas khusus. Seok Ho memulai bersih-bersih dengan merapikan meja dan kursi. Sementara Guru Soo Jung yang awalnya tidak ingin membantu Seok Ho pun akhirnya ikut membantu sambil memberikan laki-laki itu masker agar terhindar dari debu.

Dalam jam pelajaran, seperti biasa para siswa tidak memperhatikan sang guru dalam mengajar. Tak terkecuali Chan Doo yang sedang menonton dance di Hp-nya, Bong Goo yang sibuk melawan rasa kantuknya, Pul Ip yang memikirkan perkataan Seok Ho mengenai perubahan hidup yang tentu akan terjadi bila masuk Chun Ha, Hyun Jung yang sibuk menggambar wajah Baek Hyun, dan Baek Hyun pun sibuk memikirkan tempat tinggal untuk dirinya dan sang nenek setelah benar-benar diusir. Di saat itu, Baek Hyun mendapat sms dari bos tempatnya bekerja untuk ikut membantunya sekarang (Siang=Jam sibuk) dengan iming-iming uang tambahan. Baek Hyun tentu setuju. Ia bergegas bangun dari kursinya dan pergi tanpa izin dari Guru yang sedang mengajar yang juga tiba-tiba menyapanya, “Baek Hyun, kau mau kemana?” Tanpa basa-basi Baek Hyun berkata, “Chongsohamnida! (Maafkan aku).”

Di koridor bertemu dengan Guru Soo Jung, Baek Hyun berbohong dengan mengatak bahwa sekarang Neneknya sedang sakit. Ia harus segera pulang. Guru Soo Jung mengizinkannya. Namun Seok Ho (baru datang) tidak percaya dengan penjelasan Guru Soo Jung. Ia berkata, “Nenek mana di dunia ini yang menyuruh cucunya meninggalkan sekolah untuk datang menjaganya..” Guru Soo Jung berfikir. Ia dan Seok Ho bertanya mengenai Baek Hyun pada Chan Doo. Chan Doo berkata jujur, mengatakan bahwa Baek Hyun sering bolos untuk bekerja pada waktu jam makan siang demi mendapatkan bayaran lebih. Guru Soo Jung sedih, ia tidak tahu-menahu bahwa siswa dikelasnya bolos demi menghabiskan waktunya untuk bekerja.

Hari itu Seok Ho memasang pengumuman untuk masuk Chun Ha. Para siswa terkejut sambil melontarkan komentar-komentarnya pada Seok Ho, “Aku tidak merasa ini Universitas Chun Ha yang itu. Semua kembali mengejek, namun Seok Ho tetaplah Seok Ho yang percaya diri. Ia percaya pasti akan ada siswa yang masuk Chun Ha. Tiba-tiba matanya tertuju pada kelas Baek Hyun. Dilihatnya, ada Bong Goo yang sedang di ejek oleh kedua teman sekelasnya. Seok Ho datang saat kedua siswa itu pergi dan bertanya, “Apa kau bahagia berpura-pura menjadi orang yang baik hanya untuk membuatmu bahagia? Musuhmu bukanlah mereka. Inilah musuhmu!! (Menunjukkan buku Bong Goo yang banyak tercoret dengan stabilo). Kau sudah banyak melawan mereka. Datang dan berjuanglah dengan gigih!”

Sementara itu, Guru Soo Jung terengah-engah mengejar para siswa yang tidak mau mengulang pelajaran. Melihat Seok Ho berjalan disampingnya, Guru Soo Jung mengejek, “Aku bertanya pada siswa dikelasku tetapi tidak ada yang ingin bergabung dikelas khusus. Itupun sama dengan kelas lainnya.” Seok Ho menanggapi dengan santai, “Benarkah? Aku akan menemuimu besok.”

Ditempatnya bekerja, Nenek menelepon Baek Hyun yang sedang bekerja. Nenek mengatakan bahwa dirinya sangat senang bahwa cucunya masuk dalam kelas khusus untuk masuk Chun Ha. Baek Hyun tertegun, “Siapa yang mengatakannya?” Nenek menjawab, “Guru barumu. Kang……. Kang…….” “Kang Seok Ho???” Baek Hyun meneruskan. Ternyata hari itu Seok Ho datang ketempat Nenek Baek Hyun bekerja. Lalu ia yg meneruskan pembicaraan dengan Baek Hyun, “Sebagai guru barumu, sudah menjadi tugasku untuk datang mengunjungi Nenekmu.” Baek Hyun kesal, belum selesai mengungkapkan rasa marahnya namun Seok Ho menutup teleponnya terlebih dulu.
Nenek Baek Hyun juga menceritakan masalah kepindahannya pada Seok Ho atas rumahnya yang harus segera dikosongkan. Seok Ho bersimpati dan mencoba mencarikan rumah untuk mereka. Hal itu juga menjadi kesempatan bagi Seok Ho untuk meminta Baek Hyun bergabung dalam kelas khusus.
Di restorannya, Bong Goo membantu orangtuanya melayani pengunjung yang datang. Padahal sebelumnya Bong Goo berniat untuk belajar di hari itu. Saat itu juga, keluarga teman lamanya Bong Goo datang dan mengatakan bahwa mereka datang untuk merayakan hasil ujian (Teman Bong Goo) yang memuaskan. Ibu Bong Goo berkomentar, “Aku tidak tahu sekolah ByungMoon memiliki siswa yang pandai.” Teman Bong Goo bingung, “Aku tidak sekolah di Byung Moon.” Ibunya (Teman Bong Goo) ikut menjelaskan bahwa anaknya tidak bersekolah di sekolah regular, namun bersekola di sekolah terkenal. Mengenai sekolah Bong Goo, keluarga temannya itu begitu terkejut begitu Ayah Bong Goo mengatakan bahwa Bong Goo bersekolah di Byung Moon (Ada-ada aja.. Hehe..).

Esoknya, Hyun Jung kelabakan lantaran Baek Hyun tidak mengangkat teleponnya. Dengan cara lain, Hyun Jung meminta Pul Ip untuk menelepon Baek Hyun dengan Hp-nya. Tak disangka-sangka, Baek Hyun mengangkat telepon dari Pul Ip bahkan menanyakan kabar gadis itu. Hyun Jung mendadak cemburu sementara Pul Ip begitu terkejut dan langsung memberikan Hp-nya pada Hyun Jung. Namun apa daya, Baek Hyun berbohong pada Hyun Jung bahwa ia sedang mengendarai motornya demi menghindar dari berbagai pertanyaan gadis itu.
Kembali ke tempatnya bekerja, Baek hyun meilihat Seok Ho yang lahap memakan Mie disana. Begitu mengambil pesanan Mie untuk kembali diantarnya, Seok Ho mengikuti Baek Hyun dan menanyakan masalah di telepon tadi siang. Baek Hyun tidak peduli dengan laki-laki itu sambil bergegas mengendarai motornya.

Pulang ke rumah, Pul Ip disambut dengan isak tangis Ibunya. Ia bertanya, “Apa istri dari paman itu datang lagi?” Sang Ibu mengiyakannya. Perlahan Pul Ip menangis melihat tingkah laku Ibunya. Mabuk-mabukkan, disangka perebut suami orang, dsb. Belum lagi ia melihat wajah Ibunya yang terluka. Pul Ip menangis sambil merapikan sepatu Ibunya. Tiba-tiba, Seok Ho datang. Mencoba meyakini Pul Ip kembali untuk bergabung dalam kelas khusus. Pul Ip masih menolak, namun Seok Ho masih berusaha meyakinkan Pul Ip untuk mengubah sesuatu yang diselipkannya dibawah kaleng minuman Pul Ip.. Yaitu sobekan kertas ulangan Pul Ip yang bernilai 25 itu.

Esoknya, pagi-pagi Nenek sudah siap untuk berangkat kerja. Tidak lupa ia meminta Baek Hyun untuk membawa bekal yang sudah disiapkannya ke sekolah. Awalnya Baek Hyun menolak. Namun sang Nenek tetaap memaksa karena kelas khusus itu diadakan sampai malam hari. Baek Hyun bingung, toh dirinya tidak mau ikut dalam kelas khusus tersebut tetapi Nenek sudah sangat memperhatikannya seperti biasa.

Di sekolah, Guru Soo Jung datang menemui Seok Ho yang sedang mengecat dinding ruangan untuk kelas khusus. Ia masih sangat meragukan kemampuan Seok Ho menarik 5 siswa untuk bergabung di kelas khusus tersebut. Dengan rasa percaya dirinya yang tinggi, Seok Ho mengajak Guru Soo Jung bertaruh, “Jika aku mendapatkan 5 siswa itu, kau dan aku harus menjadi asisten guru privat kelas ini.” Guru Soo Jung tidak setuju, “Sirheo!!” Tetapi, setelah dipikir jika dirinyalah yang menang, Guru Soo Jung mengiyakannya juga.

Dalam pelajaran Guru Soo Jung, lagi-lagi Baek Hyun tidak ada di kelas. Ternyata hari itu Baek Hyun sibuk bekerja di bengkel. Saat jam makan siang, Baek Hyun izin keluar dari bengkel. Sambil duduk di taman, Baek Hyun membuka bekal dari Neneknya dan menemukan sepucuk surat.
Isi Suratnya: “Untuk cucuku, BaekHyun.. Jika Ibumu masih hidup, ia akan membuatkan makan siang yang lebih baik untukmu. Mianhaeyo! Makanan adalah obat untuk tubuhmu. Kau harus makan makanan yang baik untuk menjaga kesehatan tubuhmu. Jadi, makanlah semuanya. Cucuku,, Saranghamnida!!”
Baek Hyun membaca surat itu sambil menangis. Terlebih saat memakan bekal itu. Baek Hyun tak tahan lagi menahan air matanya (Ciee bahasanya. Wkwk). Lalu, surat itu terbang menjauh dari Baek Hyun. (Disini ada scene masa kecil Baek Hyun) Saat itu, Baek Hyun yang masih duduk di bangku sekolah dasar selalu di dampingi sang Nenek. Entah di sekolah, saat makan bahkan saat mengerjakan PR-nya (Sebenernya Baek Hyun itu anak yang pinter). Ia mencoba mengambil surat yang pada akhirnya jatuh mengenai air dan mencoba menggapai-gapai surat itu sampai didapatnya.
Tidak lama, Seok Ho menelepon memberitahukan Baek Hyun untuk segera menolong Neneknya. Baek Hyun sangat khawatir. Terlebih saat melihat sang Nenek sedang membawa gerobak berisi perabotan rumah mereka di jalan yang menanjak (Sediih…T_T). Baek Hyun ingin menolong Neneknya. Namun Seok Ho datang dan tidak membiarkan Nenek Baek Hyun tahu bahwa cucunya bolos sekolah demi berpakaian seperti itu (Baju dari bengkel). Seok Ho memberitahukan bahwa mereka harus pergi hari itu. Baek Hyun berkata, “Aku belum mendengar hal apapun tentang itu.” Seok Ho kembali menjelaskan, “Tentu saja tidak. Ia tidak tega berbagi kekhawatirannya padamu. Aku akan membantumu. Buanglah rasa gengsimu jauh-jauh. Pakailah ini! (Melempar pakaian untuk mengganti baju bengkelnya).
 Nenek terlalu lelah untuk membawa barang-barang mereka. Tiba-tiba Baek Hyun datang dan menolong Nenek dengan cepat. Ia membawa sang Nenek masuk ke dalam gerobak tersebut sehingga membuat Nenek bingung, “Ini terlalu berat untukmu.” Baek Hyun tidak peduli. Ia memutar balik gerobak tersebut dan mengatakan bahwa mereka tidak perlu pindah karena dirinya akan mengurus semuanya, sambil menangis lagi..

Guru Soo Jung masih belum dapat kabar apapun mengenai Baek Hyun. Ia sempat bertanya pada siswa-siswinya mengenai minatnya dengan kelas khusus. Namun, tidak satu orang pun merespon pertanyaan tersebut.
Pelajaran Guru selanjutnya, Pul Ip kembali bimbang. Ia berfikir ulang mengenai minatnya untuk bergabung dalam kelas khusus. Dengan percaya diri, Pul Ip bangun dari kursinya dan izin pergi dari Guru tersebut. Guru itu menolak Pul Ip untuk pergi karena ia tidak ingin rencana Seok Ho berhasil. Tetapi Pul Ip tidak peduli. Hal itu malah membuat Chan Doo dan Bong Goo mengikuti langkah Pul Ip dari belakang.

Hari ketiga untuk mengumpulkan para siswa, Seok Ho menunggu siswa yang mau bergabung di ruangan untuk kelas khusus tersebut. Jika dalam hitungan kurang dari 5 menit belum juga ada siswa yang datang, sesuai perjanjiannya Seok Ho harus segera pergi meninggalkan Byung Moon (Soalnya perjanjiannya jam 10 pagi). Dalam waktu singkat tersebut, Seok Ho sudah hampir hilang harapan. Saat beranjak dari tempat duduknya, Pul Ip beserta Chan Doo dan Bong Goo datang menemui Seok Ho sebagai tanda bahwa mereka siap masuk Chun Ha. Tiba-tiba kepsek Ma Ri beserta Guru lainnya datang dan menyindir Seok Ho, “Siswanya hanya 3?” Guru-guru tersenyum licik. Tanda bahwa mereka senang Seok Ho telah gagal. Namun semuanya salah besar.. di detik-detik terakhir menuju angka 10:00, Baek Hyun datang setelah berlari menuju sekolah.
Lalu disusul oleh Hyun Jung yang langsung menggandeng tangan Baek Hyun. Semua Guru terkejut tidak percaya. Kepsek Ma Ri kembali menyindir Seok Ho, “Masih ada perjanjian kedua. Untuk ujian bulan Juni, jika gagal kau harus pergi.”
Seok Ho kembali mengatakan janjinya pada Baek Hyun, ia sudah mengatasi masalah rumahnya. Baek Hyun berkata, “Aku tidak ada pilihan lain.” Seok Ho tidak peduli dengan jawaban Baek Hyun. Ia berdiri di depan kelas dan mengatakan agar semua belajar keras. Dengan begitu pasti akan masuk Universitas Chun Ha..

Episode 1

date

Judul: 동이 / Dong Yi 
Also known as: Dawn
Genre: Historical 
Episodes: 50
Broadcast network: MBC
Broadcast period: 2010-08-03
Air time: Monday & Tuesday 21:55

Sinopsis:
Ceritanya berkisar tentang kisah sejarah kehidupan Dong Yi, Seorang pelayan air di istana yang nantinya akan di persunting oleh sang Raja Suk Jong (Ji Jin hee) untuk menjadi selirnya yang kelak bakal melahirkan putra kedua Raja Suk Jong dan nantinya di kemudian hari akan menjadi Raja di era Joseon.

Cast :
Han Hyo Joo as Dong Yi (Later Lady Choi Sook Bin)
Kim Yoo Jung as Dong Yi (child)
Ji Jin Hee as King Sukjong
Bae Soo Bin as Cha Chun Soo
Lee So Yeon as Jang Hee Bin
Park Ha Sun as Queen Inhyeon
Jung Jin Young as Seo Yong Gi
Kim Hye Sun as Court Lady Jang
Choi Ran as (Hee Bin's mother)
Lee Jung Gil as Oh Tae Suk
Lee Kye In as Oh Tae Poong
Kim Yoo Suk as Jang Hee Jae
Park Jung Soo as Queen Myeongseong (Sukjong's mother)
Jung Sung Woon as Dong Joo
Choi Soo Han as Ge Dwo Ra
Chun Ho Jin as Choi Hyo Won
Jung Yoo Mi

Note: Menurut sutradara drama Dong Yi, Lee Byung hoon, Han Hyo Joo pantas mendapatkan peran tersebut karena tidak hanya memiliki kapasitas akting hebat namun juga mampu menjadi sosok yang bervariasi sesuai perannya. Menanggapi kepercayaan sutradaranya, Han Hyo Joo sangatlah berterima kasih dan akan berusaha sebaik-baiknya dalam mendalami perannya di drama ini.  Drama ini juga tidak hanya menceritakan kehidupan cinta Dong Yi, tetapi  juga menceritakan kehidupan Dong Yi sebagai wanita yang cerdas dengan menyelidiki kasus kejahatan oleh Lady Jang (Lee So yeon), seorang selir Raja yang sangat menginginkan kekuasaan (Jadi teringat Mi Shil?!...).

Hmm,, berita drama ini masih sedikit, trailernya belum ada.. Tapi, seperti yang sudah diketahui sebelumnya, drama ini juga di bintangi Bae Soo Bin yang berperan sebagai Park Jun Se di drama yang sama dengan Han Hyo Joo pada April tahun lalu, Shining Inheritance atau yang lebih dikenal di Indonesia dengan Brilliant Legacy. Oia, Stasiun MBC tu emang bagus banget deh.. Banyak menayangkan drama sageuk. Semoga drama dengan 50 Episode ini bakalan sebagus Queen Seondeok nantinya.

Foto:

Credit: Dramabeans, dramawiki

date Tuesday, February 23, 2010

Huft,,, masih banyak tugas yang menggerayangi hari-hariku.. Hhehe.. Mian yah,, jadi jarang nge-post.. Jadinya sekarang kita langsung masuk ke episode spesial aja ya.. Hihi..^^

Hwan memanggil-manggil nama Eun Sung agar gadis itu membuka pintu rumahnya. Eun Sung kaget, begitu dibukanya Hwan langsung terjatuh menimpa badan Eun Sung.

Hwan marah, mengatakan bahwa Eun Sung harus menerima kalung hati yang sudah diberi oleh Hwan, tidak boleh dikembalikan lagi kepada laki-laki itu. Eun Sung bingung harus berbuat apa sementara Hwan tengah tertidur karena mabuk. Di saat itu pula, Seung Mi menelepon Hwan, namun dibiarkan begitu saja oleh Eun Sung. Seung Mi merasa khawatir karena Hwan tidak memberi kabar kepadanya. Mencoba menelepon teman Hwan, teman Hwan mengatakan bahwa dirinya tidak sedang bersama dengan Hwan. Begitu teman Hwan menyebut nama Seung Mi, lantas Eun Woo terbangun dari tidurnya dan berteriak menyebut hamburger (soalnya sebelum diusir, Eun Woo sempet di ajak Seung Mi utk beli hamburger).
Sementara Eun Sung semakin bingung. Menggenggam kalung pemberian Hwan dan menyentuh pipi laki-laki sedang tertidur itu sambil tersenyum.

Ia membiarkan Hwan tidur di tempat tidurnya sementara dirinya tidur dalam keadaan duduk sambil meletakkan kepalanya di atas meja. Tiba-tiba Hwan terbangun dari tidurnya dan berniat untuk meninggalkan rumah Eun Sung. Tetapi saat melihat Eun Sung yang temgah tertidur, Hwan menyelimuti Eun Sung dengan selimut sementara dirinya tetap tidur dengan bersandar di depan laci.

Paginya, Seung Mi belum juga mendapat kabar dari Hwan. Mencoba menelepon Jung, ternyata Hwan juga belum pulang ke rumah, Seung Mi sangat khawatir mendengarnya. Sementara Hwan terbangun dari tidurnya namun tidak melihat Eun Sung yang sudah berangkat kerja lebih dulu. Hwan bingung begitu dirinya balik diselimuti oleh Eun Sung saat tertidur. Belum lagi ia disediakan makanan lengkap dengan lauk pauknya dan juga sikat gigi baru.
Sampai di rumah makan, Eun Sung meminta Hwan untuk mengembalikan kunci mobil nenek. Ia juga meminta Hwan untuk tidak bersikap baik padanya. Namun Hwan berhasil membalikkan kata-kata Eun Sung, “Kau sendiri mengapa menyelimutiku? Aku sudah memberikan selimut itu untukmu.” Eun Sung sedikit bingung, ia mengatakan bahwa itu hanya karena Hwan adalah cucu nenek. Di saat itu juga Seung Mi datang dan kaget melihat percakapan mereka.

Eun Sung datang menemui kepala toko, mengajukan dirinya untuk belajar menggabung menu di rumah makan dengan campuran makanan tradisional. Tetapi, itu menunjukkan bahwa Eun Sung harus pergi ke luar kota selama 2 hari 1 malam. Hwan yang  mendengarnya merasa iri dan memutuskan untuk ikut bersama Eun Sung.

Di tempat lain, Eun Sung memberitahukan kabar itu pada Jun Se dan Hye Ri. Jun Se menawarkan dirinya untuk menemani Eun Sung dengan alasan bahwa dirinya juga mempunyai urusan pekerjaan disana. Sementara Seung Mi yang mengetahui hal tersebut, mendapat kabar gembira bahwa nenek mengizinkannya untuk pergi bersama Eun Sung dan Hwan sebagai wakil dari kantor pusat. Maka itu, dirinya cepat-cepat menemui Ibunya untuk meminjam mobil. ia tidak bercerita banyak pada sang Ibu, hanya mengatakan bahwa Eun Sung sedang pergi berdua dengan Hwan ke luar kota.

Dalam pejalanan menuju luar kota, Eun Sung membeli banyak persedian makanan untuknya. Hanya saja Hwan marah ketika Eun Sung sedang asik makan sendiri dan tidak berbagi dengannya. Padahal, sebelumnya Eun Sung sudah menawarkan Hwan untuk membeli makanan namun ditolaknya. Tiba-tiba, Hwan meminta Eun Sung untuk memberikan kue untuknya. Hwan marah, “Mana bisa makan sambil dengan tangan yang sedang menyetir?!” Ia meminta Eun Sung untuk menyuapinya. Eun Sung bingung, tersenyum saat Hwan meminta disuapi untuk yang kedua kalinya..^^

Sementara itu, Jun Se menelepon Eun Sung untuk mengabarkan dirinya sekarang. Hwan marah-marah, tahu bahwa Jun Se ternyata ikut dengan mereka ke tempat yang sama. Dan untuk menyejukan suasana yang dingin, Hwan memutar lagu di mobilnya (Ehemm,, lagunya dia sendiri => Lee Seung Gi!!^^) Sementara itu, Eun Sung melihat pemandangan yang sangat indah sambil melambaikan tangannya ke luar mobil. Hwan pun mengikuti hal yang sama dengan Eun Sung..
Sampai disana, mereka menikmati indahnya pantai. Saat melihat patung seorang nenek, Hwan berkata, “Aku seperti mengenalinya.” Di jawab Eun Sung, “Itu kan Nenek.” Hehe.. Belum lagi saat Hwan meminta Eun Sung untuk bergaya agar dapat menghasilkan foto yang bagus. Hwan sama groginya dengan Eun Sung. Membuat gadis itu lama menunggu untuk difotonya, dan juga membuat Eun Sung bingung mengatur senyumannya di depan kamera. Eun Sung bertanya, “Kenapa lama sekali? Sudahkah kau foto?” Ia menghampiri Hwan, berniat untuk melihat hasil foto namun ditolaknya.

Saat Hwan dan Eun Sung tengah berjalan-jalan, Seung Mi datang dan memasang tampang tidak sukanya terhadap Eun Sung. Eun Sung tahu bahwa Seung Mi tidak menyukai dirinya yang dekat dengan Hwan. Ia pergi meninggalkan mereka berdua dengan dilihat bingung oleh Hwan. Tetapi, saat seminar dilakukan, Seung Mi begitu cemburu melihat Hwan yang sedang berdiskusi dengan Eun Sung, sementara dirinta duduk sendirian. Selesai seminar, datanglah Jun Se yang mengajak Eun Sung untuk berjalan-jalan. Hwan khawatir dengan Eun Sung (cemburu gitu,,) meminta untuk ikut dengan mereka saat itu juga. Seung Mi pun mengiyakan.
Di saat Eun Sung lelah menaiki tangga, tanpa ragu Jun Se menggandeng tangan gadis itu. Eun Sung pun sempat menoleh kearah Hwan yang terlihat cemburu. Tidak mau kalah, Seung Mi pun melakukan hal yang sama dengan menggandeng tangan Hwan. Begitu beristirahat sementara waktu, Jun Se sempat mengatakan bahwa nanti dirinya akan bergabung bersama Eun Sung membuat restoran bersama-sama.

Hwan kaget tapi gak komentar. Jun Se mengajak mereka untuk menginap tetapi bukan di hotel, melainkan di 2 mobil caravan untuk tempat mereka tidur (Jun Se+Hwan, Seung Mi+Eun Sung).

Malam itu, mereka memasak makanan sendiri. Begitu Jun Se tengah mengambil makanan untuk Eun Sung (ada seafood-nya), Hwan langsung mengatakan bahwa Eun Sung tidak dapat memakan makanan itu karena alergi. Jun Se dan Seung Mi kaget mendengar pernyataan Hwan, Eun Sung mengiyakannya. Sambil makan bersama, lagi-lagi Seun Mi mencari masalah dengan membahas masalah keluarganya lagi kepada Eun Sung, membuat Eun Sung sedih dan tidak nafsu makan. Jun Se sempat berkomentar, “Ini bukan waktunya untuk membicarakan masalah itu!”

Eun Sung tidak bisa tidur. Ia pergi ke luar mobil (malam menjelang pagi) sambil membawa kalung hati pemberian Hwan. Hwan yang juga tidak bisa tidur (tidur-tiduran diluar), mengikuti Eun Sung yang pergi dari belakang. Sementara Seung Mi terbangun dari tidurnya dan kaget melihat Eun Sung yang tidak ada di tempat tidurnya. Mencoba menelepon Hwan, malah Jun Se yang mengangkatnya. Mengatakan bahwa Hwan juga tidak ada di tempat tidurnya. Seung Mi panik, jangan-jangan…….

Hwan terus mengikuti Eun Sung. Eun Sung mencoba bersembunyi dari Hwan yang tiba-tiba datang ke tempatnya. Tetapi Hwan tidak bisa dibohongi, dirinya terus mengikuti Eun Sung yang tengah bersembunyi. Sampai akhirnya, Hwan sudah berada di depan Eun Sung, mengatakan agar Eun Sung tidak bekerja sama dengan Jun Se untuk membangun restoran bersama. Ia meminta Eun Sung untuk tetap bersamanya, tetap disisinya.. Eun Sung bingung, mengatakan bahwa ada banyak orang yang tidak bisa menerima mereka untuk bersama (semacam berpacaran gitu), ada Seung Mi dan juga ada Jun Se.. Namanya juga Hwan,, tidak memperdulikan Seung Mi dan Jun Se untuk ikut campur urusan mereka berdua. Ia kaget begitu melihat Eun Sung memakai kalung hati pemberiannya. Berarti dia…….
Tetapi, Eun Sung sudah berkata lain, ia pergi meninggalkan Hwan sampai tiba di sebuah jembatan… (Assiiik banget ceritanya..^^)…
Hwan meminta Eun Sung untuk berhenti berlari. Ia mengatakan bahwa dirinya sangat mencintai Eun Sung. Eun Sung terdiam, sedih karena dirinya juga tidak bisa membohongi perasaan yang sama dengan Hwan.
Tiba-tiba Hwan menarik tangan Eun Sung dan mencium bibir gadis itu….^^

date Thursday, February 11, 2010

Aduhh terlambat bgt.. Maaf bgt yah baru bisa ngepost lagi...^^
Hwan semakin marah ketika Jun Se menanyakan mengapa dirinya begitu marah dengannya. Hwan berkelit, “Aku membela adikku, Jung!” Jun Se bertanya lagu, “Kau menyukai Eun Sung?” Hwan kesal, mengatakan pada Jun Se bahwa itu bukanlah urusannya. Sementara Seung Mi menangis mendengarnya.
Hye Ri memberitahu Eun Sung bahwa sedang terjadi keributan antara Jun Se dan Hwan. Sampai di luar, Eun Sung kaget melihat bibir Jun Se yang sudah berdarah. Dipikirnya, Hwan pasti yang melakukan itu pada Jun Se. Di saat yang sama, Seung Mi datang dan pura-pura tidak mengetahui kejadian itu.
Jun Se menawarkan dirinya untuk mengantar Hwan dan Seung Mi pulang, namun ditolak oleh Hwan.. Pulang dengan taksi (Eun Sung naik mobil Jun Se), Seung Mi mencoba bertanya masalah tadi dengan Hwan. Sayangnya, Hwan malah mencoba mencari topik pembicaraan lain.

Eun Sung lebih dulu sampai dirumah, bercerita pada Nenek mengenai hasil donasi yang berhasil didapatkan mereka. Nenek bertanya mengenai Hwan. Eun Sung bingung harus mengatakan apa. Nenek langsung berkata, “Seung Mi?” Eun Sung mengiyakannya.
Hwan pulang terlambat. Ditanya mengapa oleh sang Nenek, Hwan malah bergegas melangkahkan kakinya ke dalam kamar. Hwan terus berfikir, bingung dengan dirinya yang langsung emosi begitu Jun Se menanyakan perasaannya terhadap Eun Sung.
Keluar dari kamar, Hwan sempat diingatkan oleh Eun Sung agar merendam kakinya dengan air hangat, supaya kakinya gak sakit saat bangun dari tidur. Namun Hwan pura-pura tidak memperdulikan nasihat Eun Sung itu (Ah, dasar Hwan. Tp seneng deh liat mereka pake baju kuning-kuning..^^)
 

Sementara itu, Nenek yang sedang bersama dengan Butler Pyo bercerita sedikit mengenai harta warisannya kembali. Bahwa harta warisan itu tidak seluruhnya jatuh ke tangan Eun Sung. Lalu, Nenek mendatangi Hwan yang tengah tertidur pulas. Ia mengompres kaki Hwan yang sudah bekerja seharian di rumah makan.
Saat bangun di pagi harinya, Hwan merasa bahwa kakinya tidak sakit sama sekali walaupun tidak direndam dengan air panas (Hmmm,,).

Seung Mi dipaksa untuk minum jus oleh Ibunya. Sekalian menceritakan kejadian tadi malam yang membuat dirinya langsung masuk kamar tanpa bercerita sedikit pada sang Ibu. Tetapi, Seung Mi tidak ingin bercerita banyak pada Ibunya. Ibunya yang kasihan terhadap anaknya, mengatakan agar Seung Mi sedikit sabar karena Nenek Hwan pasti akan segera mengusir Eun Sung.
Namun, dirinya kembali kebingungan saat Ibu Hwan mengatakan bahwa Nenek sepertinya tidak akan mengusir Eun Sung karena bukanlah salah gadis itu jika Jun Se tidak ingin menikah dengan Jung.

Pagi-pagi, Jung sudah menyapa Eun Sung dengan baik. Belum lagi, dirinya ikut Eun Sung menyapa Nenek, Ibunya dan Butler Pyo di meja makan. Ibunya panik dengan sikap Jung, menganggap Jung sudah mulai gila. Tetapi berbeda dengan Nenek. Ia sangat senang melihat perubahan yang di alami cucu-cucunya sekarang.

Ayah Eun Sung kembali mendatangi Ibu Seung Mi. Menanyakan pada wanita itu mengenai account email Eun Sung yang tiba-tiba ditutup. Ibu Seung Mi tidak tahu akan hal itu, ia berbohong bahwa Eun Sung juga tidak pernah menghubunginya. Ia mengatakan bahwa kemungkinan Eun Sung sudah tidak ingin menemuinya lagi dikarenakan hidupnya yang sekarang telah berubah, tinggal di Amerika dan menikmati uang asuransi. Maka itu, Ibu Seung Mi menyuruh Ayah Eun Sung untuk segera meninggalkan Seoul dengan diberinya uang jika suaminya itu setuju.

Kepala toko kembali meminta Eun Sung dan Hwan untuk menyebarkan pamflet untuk kegiatan promosi rumah makan mereka agar meningkatkan pendapatan yang di targetkan oleh Eun Sung dapat tercapai sekitar 20%.
Eun Sung dan Hwan menentukan tempat untuk mereka sebarkan pamflet-pamflet tsb. Tetapi Eun Sung memilih untuk naik sepeda agar berhemat sementara Hwan seperti biasanya menggunakan Bus umum. Begitu sampai di tempat janjian, mereka mulai menempelkan pamflet-pamflet di pintu-pintu sebuah apartemen kecil.
Setelah itu, mereka pergi ke tempat lain secara terpisah. Hwan merasa capek dengan berjalan kaki. Eun Sung datang dan memberikan es krim yang didalamnya terdapat 2 batangan untuk mereka makan bersama. Dengan sedikit ragu, akhirnya Hwan mau menerima es krim yang dibelah tersebut.
 
Berniat melanjutkan perjalanan, Eun Sung meminta Hwan untuk menunggunya mengganti plester di kakinya yang sedikit luka. Saat dirinya hendak membawa sepedanya, tiba-tiba Hwan menyingkirkan tangan gadis itu. Menawarkan dirinya untuk memboncengi Eun Sung sampai ke rumah makan. Karena saking gugupnya dengan Eun Sung, alhasil Hwan membawa sepeda itu dengan penuh guncangan sampai membuat Eun Sung kaget dan memegangi pinggang Hwan.
 

Asiik,,, asiik.. Hwan jadi semakin gugup deh bawanya..^^
Samapai di toko, Seung Mi yang membawa berkas perusahaan yang diminta oleh Hwan, melihat adegan itu dengan penuh rasa cemburu. Tiba di dalam toko, Hwan langsung di sambut Seung Mi untuk ikut pergi bersamanya. Sementara Eun Sung melihatnya dengan perasaan bingung (cemburu kali ya^^).

Bersama dengan Seung Mi, Hwan membeli buku tentang penjualan. Seung Mi bertanya, “Mengapa kau membelinya?” dijawab Hwan, “Aku tertarik dengan penjualan.” Seung Mi bingung, Hwan sudah mulai tertarik untuk bekerja di rumah makan neneknya. Lalu Seung Mi mengajak Hwan makan di restoran. Hwan menolak, meminta Seung Mi untuk makan di tempat yang lain (lebih murah). Namun Seung Mi tetap memaksa karena dirinya sendiri yang akan menraktir Hwan (Makin bingung deh Seung Mi,, Hwan juga  dah mulai hidup sederhana rupanya). Bicara mengenai Eun Sung, Hwan mengatakan bahwa dirinya harus tetap profesional dalam bekerja sama dengan gadis itu, tidak peduli dengan apa yang dipikirkan Seung Mi terhadap Eun Sung. Huhu,, rasain seung mi..

Eun Sung masih bingung dengan perasaannya. Dirinya terus memikirkan Hwan yang diajak pergi bersama Seung Mi. Gak lama, Seung Mi menelepon Eun Sung untuk meminta foto terbaru Eun Woo.

Sementara di tempat lain, Ayah Eun Sung terus memikirkan Eun Sung yang katanya sudah hidup bahagia di Amerika dan tidak lagi memperdulikan nasib Ayahnya. Ia menangis, mengingat dirinya harus pergi jauh meninggalkan kota Seoul.
Sebelum keberangkatannya, Ia terlebih dulu berpamitan pada Jun Se bahwa dirinya telah berhenti dari pekerjaan dan akan pergi jauh. Tetapi dirinya tidak dapat bercerita banyak mengenai masalahnya pada Jun Se.

Setelah janjian dengan Ibu Seung Mi, maka Ayah Eun Sung akan segera pergi saat itu juga.

Di hari kedua untuk pemasaran, tak di sangka-sangka Eun Sung dan Hwan mengunjungi satu gedung sewa pernikahan yang sama. Yang sebelumnya pernah mereka lirik satu sama lain namun secara sembunyi-sembunyi (pengen bersaing). Namun sayangnya usaha mereka gagal total. Sempat beradu mulut, kedua orang ini mendapatkan ide baru. Mereka bisa saja menawarkan promo tersebut ke tempat-tempat umum seperti layaknya sekolah, rumah sakit, gereja dan lainnya.

Jun Se mengajak Eun Sung pergi untuk menawarkan bantuan dari seorang kenalannya utnuk menjadi pelanggannya. Namun sayangnya Eun Sung menolak. Lalu Jun Se membicarakan harta warisan nenek (lagi). Jun Se mengatakan bahwa keluarga Hwan akan menuntut dengan jalan hukum jika semua warisan jatuh ke tangan Eun Sung. Sementara itu, Jun Se juga mengatakn bahwa kemungkinan besar Hwan ingin bekerja di rumah makan dikarenakan usahanya untuk merebut harta warisan itu secara perlahan dari tangan Eun Sung (maksud omongannya apa y?!)

Hwan datang ke kafe milik temannya. Sempat berkomentar bahwa dirinya kasihan dengan Eun Woo yang terus bekerja memainkan piano itu sepanjang hari.
 

Tiba-tiba, terpikirkan oleh temannya untuk meminta tolong kepada Hwan untuk menjaga Eun Woo sambil membuatkan mie instan.

Sementara Eun Sung pergi bertemu dengan Seung Mi. Menganggap bahwa Seung Mi hanya ingin bertemu dengannya, bukan menawarkan dirinya untuk ikut membantu mencari Eun Woo. Setelah bicara panjang lebar akhirnya Eun Sung mengerti.
Pulang dengan naik Bus Umum seperti biasanya, disaat yang sama ada sang Ayah yang juga sedang menunggu Bus untuk ke luar kota. Begitu Bus yang ditumpangi Eun Sung berada di lampu merah, sekilas Ayah Eun Sung melihat wajah putrinya di dalam Bus tersebut.
Mencoba mengejar Bus yang sudah berjalan, Ayah Eun Sung berlari sekuat tenaganya sambil meneriakan nama Eun Sung. Namun, Eun Sung yang tengah memakai headset (hehe..) tidak dapat mendengar suara Ayahnya yang jauh berlari di jalan raya...

date Tuesday, February 9, 2010